Jaringan Wireless, Point-to-Point (PtP) dan Point-to-Multipoint (PtMP)
| Gambar 426 Jaringan Wireless |
1. Konsep Dasar Jaringan Wireless
Jaringan wireless adalah jaringan komputer yang menggunakan gelombang radio sebagai media penghantar data, bukan kabel. Dengan wireless, perangkat dapat terhubung tanpa perlu menarik kabel fisik.
1.1 Karakteristik Jaringan Wireless
- Tidak menggunakan kabel (menggunakan frekuensi radio 2.4 GHz, 5 GHz, 6 GHz, dsb.)
- Instalasi lebih cepat dan fleksibel.
- Mobilitas tinggi, pengguna bisa bergerak tetap terhubung.
- Jangkauan bervariasi, dari jarak beberapa meter (WiFi indoor) sampai puluhan kilometer (Wireless Outdoor).
1.2 Komponen Utama
- Access Point (AP) – memancarkan dan menerima sinyal.
- Wireless Client – perangkat pengguna (laptop, HP, station/receiver).
- Antena – omnidirectional atau directional.
- Wireless Controller (opsional) – mengatur banyak AP.
- Repeater/Bridge – memperluas jangkauan
1.3 Frekuensi Umum
- 2.4 GHz → jauh namun rawan interferensi.
- 5 GHz → lebih cepat, lebih bersih, jarak lebih pendek.
- 6 GHz (WiFi 6E) → sangat cepat, jarak sedang.
2. Jaringan Wireless Point-to-Point (PtP)
Point-to-Point adalah koneksi wireless antara dua titik, biasanya untuk:
- Menghubungkan dua gedung
- Backbone antar tower
- Mengarahkan data ke lokasi jarak jauh
2.1 Ciri-Ciri PtP
- Hanya 2 perangkat: satu sebagai AP/Host, satu sebagai Station/Client.
- Menggunakan antena directional (mis. dish, panel, grid).
- Kecepatan stabil karena koneksi fokus.
- Sangat cocok untuk jarak 500 meter hingga 50 km.
2.2 Cara Kerja PtP (Flow)
- Titik A memancarkan sinyal ke arah titik B.
- Titik B mengarah tepat ke titik A.
- Keduanya membuat jembatan wireless (wireless bridge).
- Lalu lintas jaringan berjalan seperti kabel LAN yang panjang.
2.3 Kelebihan PtP
- Stabil dan cepat
- Noise/interferensi kecil
- Bisa menjangkau jarak jauh
2.4 Kekurangan PtP
- Hanya menghubungkan 1 ke 1
- Butuh Line of Sight (LOS) yang bersih
3. Jaringan Wireless Point-to-Multipoint (PtMP)
Point-to-Multipoint adalah koneksi satu titik pusat ke beberapa titik sekaligus.
Mirip menara BTS yang melayani banyak perangkat.
3.1 Ciri-Ciri PtMP
- Ada 1 Access Point (AP) sebagai pusat.
- Banyak Station/Client yang terhubung (2, 5, atau puluhan).
Menggunakan Antena
Antena Omnidirectional (360°)Sectoral Antenna (mis. 90°, 120°)
- Digunakan untuk:
- Desa internet
- Pemancar internet ke RW/RT
- Kampus / sekolah / kantor skala besar
- CCTV di banyak titik
3.2 Cara Kerja PtMP
- AP memancarkan sinyal dengan pola tertentu (omni/sector).
- Banyak client menangkap sinyal dari AP.
- Masing-masing client mendapatkan bandwidth sesuai manajemen AP.
- Semua client berbagi satu kanal frekuensi.
3.3 Kelebihan PtMP
- Satu AP bisa melayani banyak klien sekaligus.
- Efisien untuk jaringan komunitas atau kampus.
- Fleksibel dalam penambahan client.
3.4 Kekurangan PtMP
- Shared bandwidth (kecepatan dibagi).
- Rentan interferensi jika banyak client.
- Membutuhkan manajemen frekuensi yang baik.
4. Ringkasan Perbedaan PtP dan PtMP
| Aspek | Point-to-Point | Point-to-Multipoint |
|---|---|---|
Jumlah perangkat | 2 titik | 1 pusat ke banyak titik |
Antena | Directional | Omni / Sector |
Stabilitas | Sangat stabil | Dipengaruhi banyak user |
Jarak | Jauh (hingga puluhan km) | Sedang (1–10 km) |
Kecepatan | Dedicated | Dibagi |
Contoh penggunaan | Gedung A ⇆ Gedung B | Tower pusat → banyak rumah |
Konsep Dasar VLSM ( Variable Length Subnet Mask )
| Gambar 425 VLSM |
1. Pengertian VLSM
-
VLSM (Variable Length Subnet Mask) adalah teknik subnetting di mana satu jaringan IP dibagi-bagi menjadi subnet dengan ukuran berbeda sesuai kebutuhan host.
-
Tidak semua subnet harus memiliki jumlah host yang sama, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan nyata (efisien dalam penggunaan IP Address).
-
VLSM merupakan pengembangan dari FLSM (Fixed Length Subnet Mask), di mana setiap subnet memiliki ukuran sama.
2. Kenapa VLSM Dibutuhkan?
-
Jika kita menggunakan FLSM, sering terjadi pemborosan IP Address, karena setiap subnet diberikan jumlah host yang sama, meski tidak diperlukan.
-
Dengan VLSM, kita bisa membagi subnet dengan lebih fleksibel:
-
Subnet besar → untuk banyak host.
-
Subnet kecil → untuk sedikit host.
3. Prinsip Dasar VLSM
-
Hitung kebutuhan host tiap subnet (misalnya LAN A butuh 50 host, LAN B butuh 20 host, LAN C butuh 5 host).
-
Urutkan kebutuhan dari terbesar ke terkecil.
-
Ambil blok IP dan subnetkan sesuai kebutuhan terbesar terlebih dahulu.
-
Subnetkan lagi sisanya untuk kebutuhan yang lebih kecil.
-
Pastikan tidak ada tumpang tindih alamat (overlap).
4. Contoh Kasus VLSM
Misalnya kita punya Network: 192.168.10.0/24 dan kebutuhan:
- Subnet A = 100 host
- Subnet B = 50 host
- Subnet C = 25 host
- Subnet D = 10 host
Solusi dengan VLSM:
- Subnet A (100 host) → butuh /25 (128 alamat, 126 host) → 192.168.10.0/25
- Subnet B ( 50 host) → butuh /26 ( 64 alamat, 62 host) → 192.168.10.128/26
- Subnet C ( 25 host) → butuh /27 ( 32 alamat, 30 host) → 192.168.10.192/27
- Subnet D ( 10 host) → butuh /28 ( 16 alamat, 14 host) → 192.168.10.224/28
Semua kebutuhan host terpenuhi tanpa boros IP.
5. Kelebihan VLSM
- Efisien dalam penggunaan IP Address.
- Fleksibel untuk berbagai ukuran subnet.
- Cocok untuk jaringan besar dengan banyak subnet berbeda.
6. Kekurangan VLSM
- Perhitungannya lebih rumit dibanding FLSM.
- Perlu dokumentasi yang baik agar tidak terjadi overlap.
- Hanya bisa digunakan pada routing yang mendukung classless addressing (CIDR).
Diagram Visual — Alur Perhitungan VLSM
Contoh praktis: kita punya network 192.168.10.0/24 (256 alamat). Tujuan: alokasikan subnet berbeda-beda sesuai kebutuhan host (besar → kecil) tanpa overlaping.
Langkah singkat (algoritma)
- Hitung kebutuhan host tiap subnet (mis. A:100, B:50, C:25, D:10).
- Urutkan kebutuhan dari terbesar ke terkecil.
- Ambil blok terbesar yang tersedia dan alokasikan subnet dengan prefix terkecil yang masih memenuhi kebutuhan (mis. butuh ≥100 → pilih /25 karena /25 punya 126 host usable).
- Dari sisa blok yang belum terpakai, ulangi langkah 3 untuk kebutuhan berikutnya.
- Periksa kembali tidak ada overlap dan dokumentasikan tiap subnet.
Diagram pembagian (tree) — step-by-step
192.168.10.0/24 (0 - 255) — total 256 alamat├─ 192.168.10.0/25 (0 - 127) -> Alokasikan untuk Subnet A (butuh 100 host)└─ 192.168.10.128/25 (128 - 255) -- sisanya, kita subdivide lagi├─ 192.168.10.128/26 (128 - 191) -> Alokasikan untuk Subnet B (butuh 50 host)└─ 192.168.10.192/26 (192 - 255) -- subdivide lagi├─ 192.168.10.192/27 (192 - 223) -> Alokasikan untuk Subnet C (butuh 25 host)└─ 192.168.10.224/27 (224 - 255) -- subdivide lagi├─ 192.168.10.224/28 (224 - 239) -> Alokasikan untuk Subnet D (butuh 10 host)└─ 192.168.10.240/28 (240 - 255) -> Sisa (cadangan)
Catatan: setiap kali kita membagi sebuah blok, batasnya harus mengikuti ukuran blok biner (jumlah alamat yang merupakan pangkat dua).
Tabel hasil alokasi (ringkas)
Subnet Prefix Network Usable Range Broadcast Total Addr Usable Hosts Subnet A /25192.168.10.0192.168.10.1 - 192.168.10.126192.168.10.127128 126 Subnet B /26192.168.10.128192.168.10.129 - 192.168.10.190192.168.10.19164 62 Subnet C /27192.168.10.192192.168.10.193 - 192.168.10.222192.168.10.22332 30 Subnet D /28192.168.10.224192.168.10.225 - 192.168.10.238192.168.10.23916 14
Penjelasan singkat tiap langkah pada contoh
- /25 membagi /24 menjadi dua blok (0-127 dan 128-255). /25 memberi 128 alamat (126 usable) — cocok untuk kebutuhan ~100 host.
- /26 membagi satu /25 menjadi dua /26 (masing-masing 64 alamat, 62 usable) — cocok untuk 50 host.
- /27 memberi 32 alamat (30 usable) — cocok untuk 25 host.
- /28 memberi 16 alamat (14 usable) — cocok untuk 10 host.
Tips praktis & checklist
- Urutkan kebutuhan dari terbesar → terkecil agar menghindari fragmentasi yang menyebabkan tidak tersedianya blok besar.
- Gunakan kalkulator subnet (atau spreadsheet) untuk menghindari kesalahan perhitungan.
- Dokumentasikan setiap alokasi: network, prefix, gateway (biasanya .1), range DHCP, purpose.
- Periksa overlap: semua network harus non-overlapping.
- Simpan cadangan: sisakan beberapa blok kecil untuk pertumbuhan mendadak.
- Router dan perangkat harus mendukung CIDR / classless routing agar VLSM berfungsi (sebagian besar perangkat modern sudah mendukung).
Checklist validasi akhir sebelum deploy
- Semua kebutuhan host terpenuhi
- Tidak ada alamat yang overlap
- Gateway dan DHCP terdefinisi untuk tiap subnet
- Dokumentasi siap (tabel + diagram)
- Cadangan alamat tersedia untuk pertumbuhan
Pengertian HTB dalam Komunikasi Serat Optik
| Gambar 406. HTB atau Hybrid Transmission Box |
Dalam konteks komunikasi serat optik, HTB biasanya merujuk pada Hybrid Transmission Box. Ini adalah perangkat atau sistem yang digunakan untuk menggabungkan atau mengelola berbagai jenis sinyal dalam sistem transmisi serat optik. Berikut adalah beberapa penjelasan terkait:
Fungsi HTB dalam Komunikasi Serat Optik
1. Konversi Sinyal
HTB sering digunakan untuk mengonversi sinyal listrik (dari kabel tembaga) menjadi sinyal optik (untuk ditransmisikan melalui serat optik), atau sebaliknya.
2. Penggabungan dan Distribusi Sinyal
HTB dapat menggabungkan beberapa jenis sinyal (seperti data, suara, atau video) ke dalam satu jalur transmisi serat optik, sehingga memanfaatkan kapasitas serat secara lebih efisien.
3. Interkoneksi Antar Jaringan:
HTB memungkinkan integrasi antara jaringan kabel konvensional (misalnya Ethernet) dengan jaringan berbasis serat optik.
4. Konverter Media:
HTB sering digunakan sebagai konverter media dalam sistem FTTH (Fiber to the Home) atau jaringan optik lainnya.
5. Contoh Penggunaan HTB:
- Jaringan FTTH (Fiber to the Home):
HTB digunakan di sisi pelanggan untuk menghubungkan perangkat rumah (seperti komputer atau router) dengan jaringan serat optik.
- Infrastruktur Jaringan Kampus atau Perkantoran:
HTB membantu mentransmisikan data dalam jarak jauh melalui serat optik, dengan titik penghubung yang mudah antara jaringan optik dan perangkat berbasis kabel tembaga.
Konsep Dasar Media
Converter HTB dengan Port RJ-45 dan Port Fiber Optic
Media Converter
HTB adalah perangkat jaringan yang berfungsi untuk mengubah atau mengonversi
sinyal dari kabel tembaga (Ethernet UTP, RJ-45) ke kabel serat optik (Fiber
Optic, SFP atau SC/LC connector) dan sebaliknya. Perangkat ini memungkinkan integrasi
jaringan berbasis tembaga dan serat optik, sehingga transmisi data dapat
dilakukan lebih jauh dengan kecepatan yang tinggi.
Media Converter
HTB sering digunakan dalam jaringan Metropolitan Area Network (MAN), kampus, perkantoran,
serta jaringan Fiber to the Home (FTTH).
2. Struktur dan Komponen Media Converter HTB
Media Converter
HTB biasanya memiliki dua port utama:
§
Port RJ-45 (Ethernet UTP)
→ Untuk
koneksi ke perangkat jaringan berbasis tembaga seperti switch, router, atau
komputer.
→ Mendukung
standar 10/100/1000 Mbps (Fast Ethernet atau Gigabit Ethernet).
§
Port Fiber Optic (SC/LC atau SFP Slot)
→ Untuk
koneksi ke jaringan serat optik, mendukung single-mode atau multi-mode fiber.
→ Dapat
mentransmisikan data hingga 20 km atau lebih, tergantung jenis fiber opticnya.
Beberapa model
juga memiliki fitur seperti Auto MDI/MDIX, yang memungkinkan penggunaan kabel
straight atau crossover tanpa konfigurasi tambahan.
3. Cara Kerja Media Converter
HTB
3.1 Konversi
Sinyal Elektrik ke Optik
§
Data dari perangkat jaringan (misalnya, switch
atau komputer) masuk melalui port RJ-45 sebagai sinyal listrik.
§
Media converter mengubah sinyal listrik tersebut
menjadi sinyal optik untuk ditransmisikan melalui kabel fiber optic.
3.2 Transmisi
Melalui Kabel Serat Optik
§
Sinyal optik yang dikonversi dikirim melalui
serat optik ke perangkat tujuan, seperti switch atau media converter
lainnya.
§
Serat optik memungkinkan transmisi data jarak
jauh dengan latensi rendah dan interferensi minimal.
3.3. Konversi Sinyal Optik ke Elektrik
§
Perangkat penerima (misalnya, media converter
lain) akan mengubah kembali sinyal optik menjadi sinyal listrik.
§
Sinyal listrik kemudian dikirim ke perangkat
jaringan lainnya melalui kabel UTP.
Dengan cara
ini, media converter HTB memungkinkan perangkat berbasis Ethernet UTP
berkomunikasi melalui jaringan fiber optic tanpa perlu mengganti infrastruktur
jaringan yang ada.
4. Jenis Media Converter HTB
4.1. HTB-3100
Series
§
Model standar dengan port 10/100 Mbps RJ-45 dan port
fiber optic SC.
§
Cocok untuk jaringan fiber optik jarak menengah
(hingga 20 km).
4.2. HTB-4100
Series (Gigabit)
§
Mendukung kecepatan 10/100/1000 Mbps untuk
koneksi Ethernet.
§
Digunakan dalam jaringan backbone dengan
bandwidth tinggi.
4.3. HTB
dengan SFP Slot
§
Memungkinkan penggunaan modul SFP (Small Form-factor
Pluggable) yang bisa diganti sesuai kebutuhan jaringan.
§
Lebih fleksibel dibanding model fixed port fiber
SC/LC.
5. Keuntungan Menggunakan Media
Converter HTB
5.1
Memperpanjang Jangkauan Jaringan
§
Ethernet UTP biasanya hanya mencapai 100 meter,
sedangkan dengan fiber optic bisa mencapai 20 km atau lebih.
5.2
Meningkatkan Keamanan dan Keandalan
§
Serat optik tidak terpengaruh oleh interferensi
elektromagnetik (EMI), sehingga lebih stabil dibanding kabel tembaga.
5.3 Mengurangi
Biaya Infrastruktur
§
Tidak perlu mengganti seluruh perangkat jaringan
ke fiber optic, cukup menggunakan media converter untuk transisi bertahap.
5.4 Kompatibel
dengan Berbagai Perangkat
§
Bisa digunakan dengan switch, router, firewall,
atau perangkat jaringan lainnya tanpa perlu perubahan besar dalam
konfigurasi.
6. Contoh Penggunaan Media
Converter HTB
6.1 Jaringan
Kampus atau Perkantoran
§
Digunakan untuk menghubungkan dua gedung dengan
kabel fiber optic sambil tetap menggunakan jaringan Ethernet UTP di dalam
gedung.
6.2 Jaringan FTTH (Fiber to the Home)
§
ISP menggunakan media converter untuk
menghubungkan serat optik dari OLT (Optical Line Terminal) ke perangkat
pelanggan.
6.3
Jaringan CCTV Jarak Jauh
§
Digunakan untuk menghubungkan kamera CCTV
berbasis IP ke pusat kontrol melalui jaringan fiber optic.
Kesimpulan
Media Converter HTB adalah solusi
praktis untuk mengintegrasikan jaringan Ethernet berbasis kabel tembaga dengan
jaringan serat optik. Dengan teknologi ini, jaringan dapat diperluas tanpa
harus mengganti seluruh infrastruktur yang sudah ada, sehingga lebih hemat
biaya dan lebih fleksibel dalam pengelolaan jaringan.
Prinsip Dasar Sistem Networking Service
Gambar 391. Sistem Networking Service |
Prinsip dasar sistem networking service melibatkan berbagai konsep dan teknologi yang memungkinkan perangkat komputer dan perangkat lain untuk saling berkomunikasi dan berbagi sumber daya. Berikut adalah beberapa prinsip dasar dalam sistem jaringan layanan (networking service):
1. Layered Architecture:
§
Model OSI (Open Systems Interconnection): Model
OSI adalah model referensi untuk bagaimana aplikasi dapat berkomunikasi melalui
jaringan. Terdiri dari tujuh lapisan: Physical, Data Link, Network, Transport,
Session, Presentation, dan Application.
§ Model TCP/IP: Model ini lebih praktis dan terdiri dari empat lapisan: Link, Internet, Transport, dan Application.
2. Addressing:
§
IP Addressing: Setiap perangkat yang terhubung
ke jaringan memiliki alamat IP unik yang digunakan untuk mengidentifikasi dan
mengarahkan paket data.
§
MAC Addressing: Alamat fisik yang ditetapkan
pada kartu jaringan perangkat, digunakan untuk komunikasi pada lapisan Data
Link.
3. Routing and Switching:
§
Routing: Proses pengiriman paket data dari satu
jaringan ke jaringan lain. Router adalah perangkat yang digunakan untuk
menentukan jalur terbaik bagi paket data.
§
Switching: Proses pengiriman paket data di dalam
jaringan lokal. Switch adalah perangkat yang menghubungkan berbagai perangkat
dalam satu jaringan.
4. Protocols:
§
Transmission Control Protocol (TCP): Menyediakan
koneksi yang andal dan memastikan data dikirim secara urut dan tanpa kesalahan.
§
User Datagram Protocol (UDP): Menyediakan
koneksi yang tidak andal, digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan kecepatan
lebih tinggi dan toleransi terhadap kehilangan data.
§
HyperText Transfer Protocol (HTTP/HTTPS):
Digunakan untuk mengakses dan mentransfer halaman web.
§
Simple Mail Transfer Protocol (SMTP): Digunakan
untuk mengirim email.
5. Network Security:
§
Firewall: Perangkat atau perangkat lunak yang
digunakan untuk mengontrol dan mengamankan lalu lintas jaringan berdasarkan
aturan keamanan.
§
Encryption: Proses mengamankan data dengan
mengubahnya menjadi format yang tidak bisa dibaca tanpa kunci dekripsi yang
benar.
§
Virtual Private Network (VPN): Mengamankan
koneksi jaringan dengan membuat jalur komunikasi yang terenkripsi antara dua
titik.
6. Network Services:
§
Domain Name System (DNS): Sistem yang
menerjemahkan nama domain (misalnya, www.example.com) menjadi alamat IP.
§
Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP):
Protokol yang secara otomatis memberikan alamat IP kepada perangkat di
jaringan.
7. Bandwidth and Throughput:
§
Bandwidth: Kapasitas maksimum jaringan untuk
mentransfer data dalam satu waktu.
§
Throughput: Jumlah data yang benar-benar
berhasil ditransfer dalam periode waktu tertentu.
8. Quality of Service (QoS):
§
Teknik untuk mengelola dan memastikan kinerja
yang dapat diprediksi dari layanan jaringan dengan prioritas tertentu,
misalnya, memberikan prioritas lebih tinggi pada lalu lintas suara atau video
dibandingkan dengan lalu lintas data lainnya.
Prinsip-prinsip ini bersama-sama membentuk dasar bagaimana jaringan layanan bekerja dan memberikan fondasi untuk desain, implementasi, dan manajemen jaringan yang efektif dan efisien.
Penghitungan Subnetting
| Gambar 348. Subnetting |
Subnet Mask Nilai CIDR Subnet Mask Nilai CIDR 255.128.0.0 /9 255.255.240.0 /20 255.192.0.0 /10 255.255.248.0 /21 255.224.0.0 /11 255.255.252.0 /22 255.240.0.0 /12 255.255.254.0 /23 255.248.0.0 /13 255.255.255.0 /24 255.252.0.0 /14 255.255.255.128 /25 255.254.0.0 /15 255.255.255.192 /26 255.255.0.0 /16 255.255.255.224 /27 255.255.128.0 /17 255.255.255.240 /28 255.255.192.0 /18 255.255.255.248 /29 255.255.224.0 /19 255.255.255.252 /30
192.168.1.0 berarti kelas C dengan
Subnet Mask /26 berarti 11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192).
dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask
(2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A).
Jadi Jumlah Subnet adalah 2^2 = 4 subnet
dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet.
Jadi jumlah host per subnet adalah 2^6 – 2 = 62 host
(nilai oktet terakhir subnet mask) = 64.
Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192.
Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
Kita langsung buat tabelnya.
Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.
Subnet 192.168.1.0 192.168.1.64 192.168.1.128 192.168.1.192 Host Pertama 192.168.1.1 192.168.1.65 192.168.1.129 192.168.1.193 Host Terakhir 192.168.1.62 192.168.1.126 192.168.1.190 192.168.1.254 Broadcast 192.168.1.63 192.168.1.127 192.168.1.191 192.168.1.255
Subnet Mask Nilai CIDR 255.255.255.128 /25 255.255.255.192 /26 255.255.255.224 /27 255.255.255.240 /28 255.255.255.248 /29 255.255.255.252 /30
Subnet Mask Nilai CIDR Subnet Mask Nilai CIDR 255.255.128.0 /17 255.255.255.128 /25 255.255.192.0 /18 255.255.255.192 /26 255.255.224.0 /19 255.255.255.224 /27 255.255.240.0 /20
Penjelasan Tentang Hubungan IP Address, Subnetmask, Default Gateway dan DNS Server
Langkah-Langkah Instalasi Peer To Peer
| Gambar 322. Instalasi Kabel UTP Topologi Peer To Peer |
3. Pilih Network and Sharing Center.
4. Pilih Change Adapter Setting, klik kanan pada Local Area Connection.
5. Pilih tab properties.
6. Klik”Internet Protocol Version 4(TCP/IPv4)”.
7. Setelah muncul tampilan seperti dibawah ini, kemudian isi IP di Laptop 1 (192.168.30.2).
9. Setelah muncul tampilan seperti dibawah ini, kemudian isi IP di Laptop 2 (192.168.30.6).
Untuk mengetahui bahwa jaringan terkoneksi atau tidak maka dilakukan tes koneksi ping Laptop A ke Laptop B dan sebaliknya dengan cara, pilih menu Start lalu pilih Run (Windows+R), ketik cmd.
Jika seluruh tahapan diatas kamu lakukan dengan benar maka kamu akan berhasil dan tidak akan menemukan kendala. Jadi, lakukan dengan teliti dan tidak perlu tergesa-gesa saat melakukan ujian praktikum agar tidak mengulang jika terjadi kesalahan. Manfaatkan waktu dengan baik maka kamu akan memperoleh hasil yang maksimal.
Sekian pembahasan kami tentang "Tahapan Lengkap Praktikum Pengkabelan UTP Beserta Gambar". Jangan sungkan untuk bertanya melalui kolom komentar dibawah. Share bila dirasa artikel ini bermanfaat, Terimakasih.
Pembagian IP Address kelas A,B,C
![]() |
Gambar 257. IP Address A B C |
- Apa bisa dalam pemakai IP address 3 kelas (A, B, dan C) digubungkan ?
- Jika bisa bagaimana caranya?
- Jika tidak mengapa ? Berikut ini cara cara untuk menjawab pertanyaan berikut……
- IP address kelas A terdiri dari 8 bit untuk network ID dan
- Sisanya 24 bit digunakan untuk host ID,
- Sehingga IP address kelas A digunakan untuk jaringan dengan jumlah host yang sangat besar.
- Pada bit pertama berikan angka 0 sampai dengan 127. (0-127)
Karakteristik IP Kelas A
- Format : 0NNNNNNN.HHHHHHHH.HHHHHHHH.HHHHHHHH
- Bit Pertama : 0
- NetworkID : 8 bit
- HostID : 24 bit
- Bit Pertama : 0 -127
- Jumlah : 126 (untuk 0 dan 127 dicadangkan)
- Range IP : 1.x.x.x – 126.x.x.x
- Jumlah IP : 16.777.214
Misalnya IP address 120.31.45.18 maka
- Network ID = 120
- HostID = 31.45.18
- Untuk Subnetmask =255.0.0.0
Jadi IP address di atas mempunyai host dengan nomor 31.45.18 pada jaringan 120
- IP address kelas B terdiri dari 16 bit untuk network ID dan
- Sisanya 16 bit digunakan untuk host ID,
- Sehingga IP address kelas B digunakan untuk jaringan dengan jumlah host yang tidak terlalu besar.
- Pada 2 bit pertama berikan angka 10, sehingga bit awal IP tersebut mulai dari (128 – 191).
Karakteristik IP Kelas B
- Format : 10NNNNNN..NNNNNNNN.HHHHHHHH.HHHHHHHH
- Bit Pertama : 10
- NetworkID : 16 bit
- HostID : 16 bit
- Bit Pertama : 128 -191
- Jumlah : 16.384
- Range IP : 128.1.x.x – 191.155.x.x
- Jumlah IP : 65.532
- Misalnya IP address 150.70.45.18 maka
- Network ID = 150.70
- HostID = 60.56
- Untuk Subnetmask =255.255.0.0
- Jadi IP di atas mempunyai host dengan nomor 60.56 pada jaringan 150.70
- IP address kelas C terdiri dari 24 bit untuk network ID dan
- Sisanya 8 bit digunakan untuk host ID,
- Sehingga IP address kelas C digunakan untuk jaringan untuk ukuran kecil.
- Kelas C biasanya digunakan untuk jaringan Local Area Network atau LAN.
- Biasanya ini terdapat dalam Warnet-Warnet maupun sebuah sekolah.
- Pada 3 bit pertama berikan angka 110 sehingga bit awal IP tersebut mulai dari (192 – 223).
Karakteristik IP Kelas C
- Format : 110NNNNN.NNNNNNNN.NNNNNNNN.HHHHHHHH
- Bit Pertama : 110
- NetworkID : 24 bit
- HostID : 8 bit
- Bit Pertama : 192 – 223
- Jumlah : 16.384
- Range IP : 192.0.0.x.x – 223.255.255.x.x
- Jumlah IP : 254 IP
- Misalnya IP address 192.168.1.1 maka
- Network ID = 192.168.1
- HostID = 1
- Untuk Subnetmask =255.255.255.0
| 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |
| 128 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | |
| 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 | Min |
| 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 | 1 |
| 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | Max |
| 0 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | 127 |
| 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |
| 128 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | |
| 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | Min |
| 128 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 128 |
| 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | Max |
| 128 | 0 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | 191 |
| 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |
| 128 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | |
| 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | Min |
| 128 | 64 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 192 |
| 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | Max |
| 128 | 64 | 0 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | 223 |
| 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |
| 128 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | |
| 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | Min |
| 128 | 64 | 32 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 224 |
| 1 | 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | Max |
| 128 | 64 | 32 | 0 | 8 | 4 | 2 | 1 | 239 |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar